Tips membangun budaya dalam startup

membangun budaya dalam startup

Tips membangun budaya dalam startup

Membangun budaya dalam startup – Saya berkesempatan untuk berbincang dengan beberapa orang entrepreneur mengenai budaya startup di konferensi Capital on Stage di kantor Google Singapura. Saya bukan seorang ahli dalam topik ini. Tapi, membangun budaya yang baik adalah sesuatu yang selalu kami upayakan di Tech in Asia.

Anda mungkin bertanya mengapa kami perlu membangun sebuah budaya? Apakah memang bisa budaya itu dibentuk? Saya sangat yakin itu bisa. Suka atau tidak, budaya akan terbentuk, jadi mengapa tidak membuat budaya yang kami sukai?

Secara umum, budaya yang baik bisa menjadi pemicu yang mengikat dan mendorong perusahaan Anda maju dan berkembang. Memiliki budaya yang bagus dan bisa dikenali juga dapat membantu menarik talenta yang cocok dengan filosofi perusahaan Anda.

Di bawah ini adalah lima poin yang saya yakin (setidaknya bagi kami) penting untuk diketahui, dicatat, dan kemudian diingat ketika ingin membuat budaya startup di tim Anda.

Dimulai dari foundernya

Jika Anda ingin mempengaruhi tingkah laku orang lain, saya yakin seorang founder/pemimpin bisa melakukannya dengan memberikan contoh. Sebagai contoh, jika Anda ingin menanamkan budaya bekerja keras, Anda tidak bisa mengharapkan tim Anda bekerja keras jika Anda mulai bekerja jam 11 pagi dan pulang jam lima sore. Rencanakan budaya apa yang ingin Anda buat dan tanamkan, lalu cerminkan melalui tindakan Anda sendiri. Karena itu, saya yakin bahwa budaya di sebuah perusahaan harus mencerminkan kepribadian foundernya. Jika budaya yang ditanamkan merefleksikan kepribadian dari foundernya, maka budaya tersebut bisa bertahan.

Berkomunikasilah secara transparan

Jika Anda ingin menanamkan budaya yang diyakini oleh anggota tim Anda, komunikasikanlah. Letakkan di tempat yang mudah dilihat, atau bahkan di halaman web sehingga semua orang bisa memahaminya. Yang terpenting, dengan nilai dan budaya yang terpampang jelas, akan sangat mudah bagi calon anggota tim untuk memahami perusahaan Anda lebih dalam lagi. Perlu diketahui bahwa budaya perusahaan Anda mungkin tidak cocok untuk beberapa orang. Anda perlu menjelaskan segala sesuatu mengenai budaya dan perusahaan Anda secara transparan. Jika tim Anda saat ini bekerja sangat keras, katakan pada calon anggota baru apa yang Anda harapkan darinya. Apa budaya Anda, target perusahaan Anda, dan seperti apa bekerja di perusahaan Anda. Jika Anda bisa mengatakannya secara transparan, maka Anda tidak akan menemui banyak masalah terkait culture shock.

Be happy

Budaya yang baik adalah budaya yang bahagia. Orang-orang tidak akan keberatan bekerja keras jika mereka menikmati apa yang mereka kerjakan. Jika Anda ingin agar orang-orang di sekitar Anda menikmati apa yang mereka lakukan, teruslah berkomunikasi dengan mereka untuk memastikan bahwa mereka ada di tempat yang tepat dan melakukan apa yang menjadi minat mereka. Saya juga mendorong anggota tim saya agar menyisihkan sedikit waktu mereka untuk melakukan sesuatu yang mereka sukai di perusahaan, meskipun kegiatan tersebut bukan bagian utama dari pekerjaan mereka. Selain bekerja, bersenang-senang bersama di luar jam kerja sangatlah penting untuk menjalin ikatan di antara anggota tim.

Baca Juga : Ide Cemerlang startup yang berhasil menggebrak dunia

Fasilitasi, bukan mengatur

Meskipun Anda bisa merencanakan dan membentuk budaya, Anda tidak punya kendali penuh terhadap budaya Anda karena budaya dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Jangan paksakan sesuatu yang tidak diinginkan oleh Anda maupun tim Anda. Ikutilah alur dan energi yang dibuat tim Anda.

Rekrut anggota tim yang tepat

Mungkin inilah poin yang paling penting. Orang adalah budaya. Tidak ada seorang pun yang bisa mengatur budaya. Budaya adalah sesuatu yang dibentuk dari gabungan berbagai tindakan dan kepribadian seluruh anggota tim Anda. Tergantung seperti apa nilai dan budaya yang dianut perusahaan Anda, rekrutlah orang yang cocok dengan nilai dan budaya itu. Saya sendiri lebih suka bekerja dengan anggota tim yang bagus dalam pekerjaannya dan cocok dengan budaya yang kami bentuk ketimbang merekrut seorang jenius yang tidak begitu cocok dengan perusahaan. Kesuksesan sebuah tim biasanya disebabkan oleh timnya, bukan oleh satu atau dua orang, yang sekali lagi menekankan bagaimana budaya sangatlah penting karena hal itu mempersatukan banyak orang untuk bersama-sama melewati suka dan duka serta maju untuk mencapai visi yang sama.

Baca Juga : Menentukan Batas Ide Startup Kita Ditiru atau Tidak

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *