Membangun Infrastruktur Startup yang Simpel dan Scalable dengan Cloud

Membangun Infrastruktur Startup

Membangun Infrastruktur Startup yang Simpel dan Scalable dengan Cloud

Membangun Infrastruktur Startup – Banyak startup baru yang langsung tumbuh menjadi besar. Namun, untuk menjadi besar, sebuah startup tidak mesti berinvestasi pada server konvensional yang mahal. Hari ini (11/11) di acara Tech in Asia Jakarta 2015, Chief Technology Officer (CTO) Amazon, Dr. Werner Vogels, berbicara tentang bagaimana cloud dapat memberikan efisiensi dari segi waktu, biaya, dan tenaga dibandingkan dengan menggunakan infrastruktur konvensional.

Baca Juga : Contoh Startup Gagal di Asia Dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Mereka

“Nama-nama besar di ranah startup tumbuh dengan cloud. Lihat saja Airbnb. Untuk perusahaan yang menangani ratusan booking tiap harinya, mereka hanya punya lima orang tenaga IT,” jelas Werner.

Menurut Werner, ada empat tugas utama pendiri startup, yaitu menentukan visi produk, model bisnis, eksekusi dengan cepat, dan merekrut orang-orang yang tepat. Namun, bagi CTO, ada lima tugas tambahan yang menjadi tanggung jawabnya, yaitu soal isu keamanan, menjaga keandalan produk dan layanan, skalabilitas, performa, sembari mencapai itu semua dengan biaya yang efisien.

Simpelnya Cloud computing

Jika dibandingkan dengan infrastruktur konvensional, di mana perusahaan harus berinvestasi membeli server, data center, network device, database, storage, dan lain sebagainya, cloud computing mengizinkan perusahaan membangun infrastrutur yang sama dengan biaya yang relatif lebih rendah.

“Sekarang, semuanya serba programmable. Lagipula, pelanggan tidak peduli dengan server yang kamu gunakan, mereka lebih peduli dengan aplikasi yang kamu bangun,” tambah Werner.

Baca Juga : Alasan Memulai Startup Saat Menjadi mahasiswa

Dijelaskan oleh Werner, ini sejalan dengan Hukum Gall yang menyebutkan bahwa sistem yang rumit berkembang dari sistem yang simpel. Apabila dari awal sistem yang dibangun sudah rumit, peluang kegagalannya cenderung lebih besar. Sebaliknya, jika sistem yang rumit merupakan hasil perkembangan dari sistem yang simpel, kesempatan suksesnya akan lebih tinggi.

Dengan begitu, pendiri startup, khususnya CTO, tidak perlu pusing dengan bagian teknis ini. Cukup outsource saja ke penyedia layanan cloud. Mereka pun bisa fokus mewujudkan visi perusahaan dan membangun aplikasi atau layanan yang sesuai kebutuhan penggunanya.

Bangkitnya application container

Dalam presentasinya, Werner juga menyampaikan salah satu teknologi cloud yang sedang tren saat ini, yaitu aplikasi berbasis container. Teknologi ini membuat pengembangan dan penambahan fitur pada aplikasi, baik yang berbasis web maupun mobile, menjadi lebih mudah.
Proses development dan deployment aplikasi dengan containers memang menjadi mudah dan simpel. Akan tetapi, ada cara yang lebih mudah lagi, yaitu menggunakan AWS Lambda. Dengan menggunakan layanan cloud computing (komputasi awan) milik Amazon ini, kamu cuma perlu menentukan fungsi yang dikehendaki, meletakkannya di cloud, menentukan kapan dan apa yang akan menjadi trigger fungsi tersebut, dan biarkan ini bekerja dengan sendirinya.

“Bahkan kamu tidak perlu memikirkan skalabilitas,” kata Werner.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *