Rintangan Mahasiswa Membangun Startup

Mahasiswa membangun Startup

Rintangan Mahasiswa Membangun Startup

Rintangan Mahasiswa membangun Startup – Apakah membangun startup hanya seputar membuat produk dan mencari pengguna? Atau ada hal lain? Berawal dari ketidaktahuan mengenai apa yang akan terjadi jika kita membangun sebuah startup, saya mencoba mewawancarai Pandu Wirawan Arief, seorang serial entrepreneur yang juga Co-Founder Adplus dan Brightstars.

Pembicaraan ini cukup singkat, karena saya tidak ingin terlalu menggangu waktunya yang padat. Dari hasil wawancara itu saya berhasil menarik benang merah soal kendala yang bisa terjadi jika kamu mahasiswa semester akhir atau fresh graduate yang berniat untuk membangun startup.

Lingkungan yang belum diketahui

Karena kita tinggal dalam lingkungan kampus, kita tidak akan bisa tahu dengan pasti apa yang akan terjadi ketika terjun ke lingkungan startup. Jika kamu mengatakan “Saya sering dengar kisah beberapa kisah founder startup,” Rasanya itu masih sangat kurang untuk dapat mengetahui lingkungan sebenarnya. Karena kamu tidak akan mengetahui rasanya sebelum mencobanya. Jika itu yang kamu alami, Pandu menyarankan agar kamu lebih baik kamu menunda dulu rencanamu.

Lebih baik kamu magang atau bekerja di sebuah startup yang kamu suka atau yang kamu ingin contoh terlebih dahulu.

Baca Juga : Alasan mendirikan startup Teknologi

Dengan bekerja di startup kamu dapat merasakan langsung ekosistemnya. Kamu bisa mempelajari proses bisnis yang berjalan. Selain itu, kamu juga dapat memperluas jaringan yang akan berguna saat nanti kamu membangun startup. Memang dari yang pernah saya ketahui, banyak founder startup yang berhasil sebelumnya pernah bekerja di startup juga.
Baca juga: Apa yang Perlu Diketahui Jika Kamu Ingin Magang di Startup

Saling mengisi kekurangan

Kamu yang masih berstatus mahasiswa tentu punya kesibukan lain seperti kuliah atau organisasi kampus. Lalu bagi kamu yang baru lulus dan memiliki pekerjaan lain, tentu akan dibuat sibuk dengan pekerjaannya. Ini membuat kamu sulit untuk fokus mengembangkan startup. Menurut Pandu, solusinya adalah kita harus pintar membagi waktu.

“Selain itu, kita harus punya co-founder yang bisa melengkapi kekurangan kita dan bisa saling membantu. Cari partner yang mungkin lebih matang dari kita dan punya network yang bisa membantu produk atau jasa kita masuk ke pasar.” sarannya.

Rencana yang belum matang

Membangun startup bukan hanya menciptakan produk. Pandu mengatakan, kebanyakan startup yang masih “hijau” hanya memikirkan bagaimana menciptakan produk keren, tetapi lupa memikirkan bagaimana cara mendapatkan profit atau uangnya. Ini bisa berakibat fatal, karena profit merupakan salah satu tujuan yang sangat dibutuhkan untuk membuat startup tetap hidup.

Menurutnya, untuk membangun startup yang sukses perlu pengalaman menjalankan sebuah organisasi yang bisa menciptakan profit. Bagaimana cara mendapatkan uang, mengelola karyawannya, dan lain-lain. Kamu harus mulai memikirkan ini di hari pertama membangun startup. Kamu akan dituntut untuk bisa menghidupi startup dan orang-orang di dalamnya.

Mungkin kamu pernah beripikir untuk mencari tahu cara mendapatkan pendanaan dari investor. Akan tetapi, startup juga harus bisa mandiri tanpa mengharapkan pendanaan besar-besaran agar bisa bertahan hidup.

Sehingga, startup kamu tidak akan terlihat seperti startup yang sangat membutuhkan uang. Seperti nasihat yang pernah diberikan Paul Graham, jika investor tahu kamu sedang membutuhkan uang, mereka akan memanfaatkan hal itu dengan memberikan dana yang sedikit tapi meminta bagian saham yang besar.

Amati, tiru, dan modifikasi

Kalau saya jadi mahasiswa, saya akan tiru bisnis yang sudah ada dan sukses di luar Indonesia. Jadi, saya tidak perlu melalui proses inovasi, karena itu perlu modal dan tenaga yang besar.

Inovasi adalah hal yang luar biasa. Namun, untuk di masa permulaan saat masih berstatus mahasiswa, mungkin ini bukan hal yang cocok. Proses inovasi ini akan jadi kendala jika kita terlalu lama memikirkan sebuah ide yang unik.

Pandu mengatakan, ide startup yang sudah sukses di luar negeri dapat dimodifikasi atau disempurnakan lagi agar sesuai dengan target pasar yang diinginkan. Paling tidak, katanya, itu akan membantu mempercepat penetrasi bisnis startup dan ia bisa mendapatkan nama lebih dulu pada industri tersebut.

Baca Juga : Alasan mendirikan startup di usia Muda

Amati, tiru, dan modifikasi merupakan proses yang bisa kamu lakukan. Terlebih jika melihat kondisi kamu sendiri yang belum terlalu berpengalaman dalam dunia startup.

Dari apa yang saya tangkap, Pandu menyarankan agar mahasiswa lebih berhati-hati saat hendak membangun startup. Karena, membangun dari awal akan membutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Sebelum kamu melakukan kesalahan besar, ada baiknya kamu mengetahui terlebih dahulu lingkungan startup agar bisa memahami masalah-masalah seperti apa yang nanti akan dihadapi.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *